fbpx

Sejarah Cakra Donya

Sejarah Cakra Donya

Sejarah Cakra Donya – 1414 Masehi, dimasa itu seorang Laksamana Muslim Cina, Cheng Ho Sang diberi tugas oleh seorang penguasa dari daratan Tiongkok bernama Kaisar Yonglee mengunjungi Kerajaan Samudera Pasai untuk memberikan hadiah sebuah  lonceng raksasa “Cakra Donya”.

Dalam perjalanan tersebut, Laksamana Cheng Ho mengemban sebuah harapan dari Kaisar Yonglee, membuat sebuah ikatan dengan kerajaan Samudra Pasai dalam menjalin kerjasama di bidang keamanan dan perdagangan.

Kerajaan Samudra Pasai adalah Kerajaan Islam pertama di Nusantara dan dikenal sebagai kota pelabuhan yang maju dan padat lalu lalang kapal-kapal. Kerajaan Samudra Pasai mengekspor rempah-rempah hasil bumi ke berbagai Negara, termasuk ke Tiongkok. Harapan Kaisar Yonglee sangat besar agar Samudra Pasai dan Kerajaannya dapat menjalin hubungan baik serta bekerjasama dalam berbagai bidang.

Laksamana Cheng Ho memulai perjalanannya untuk mengunjungi Samudra Pasai dengan membawa Lonceng tanda persahabatan, yaitu “Cakra Donya”.  Lonceng Cakra Donya dibuat pada tahun 1409 Masehi, terbuat dari bahan besi berbentuk stupa. Tinggi Cakra Donya mencapai 125 centimeter, serta memiliki lebar 75 centimeter.

Terdapat goresan tulisan Hanzi (aksara Tiongkok) dan Arab pada bagian lonceng tersebut. “Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo.”, yang berarti Sultan Sing Fa yang telah dituangkan dalam bulan 12 dari tahun ke 5. Tulisan tersebut menyatakan nama Maharaja Cina disertai dengan tanggal pembuatan lonceng (dalam penanggalan Cina).  Bertujuan agar dapat dikenang dan semua orang tahu, oleh siapa dan kapan lonceng itu dibuat.

Setelah tiba di Samudra Pasai pada tahun 1414 M, Laksamana Cheng Ho disambut dengan gembira oleh masyarakat Samudra Pasai. Laksamana Cheng Ho bertemu dengan Raja Zainul Abidin, dengan menerima pemberian Lonceng “Cakra Donya” tersebut. Setelah menerima lonceng dari Kaisar Yonglee, Raja Zainul Abidin mengirim utusan untuk  berkunjung ke Tiongkok dalam rangka memperkuat persahabatan di kedua belah pihak.

Pada tahun 1542 Masehi Kerajaan Pasai ditaklukkan oleh Kerajaan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Ali Mughayatsyah, lonceng tersebut dibawa ke Kutaradja. Seiring berjalannya waktu pada masa Kesultanan Iskandar Muda, lonceng “Cakra Donya“ diletakkan pada bagian depan kapal induk armada laut Kerajaan Aceh Darussalam.

Asal muasal nama Cakra Donya mulanya  adalah nama kapal perang Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Saat itu Lonceng Cakra Donya digunakan sebagai pemberi aba-aba kepada armada Kerajaan Aceh Darussalam untuk melakukan penyerbuan di laut.

Perjuangan dan kegigihan kapal perang Sultan Iskandar Muda di medan perang, Armada laut bangsa Portugis menyebut kapal Cakra Donya sebagai “Espanto de Mundo” yang berarti Teror Dunia.

Keberadaan lonceng Cakra Donya sempat berpindah tangan ketika kapal Cakra Donya dirampas Portugis. Namun dengan perjuangan yang gigih, akhirnya lonceng itu dikembalikan kepada Kerajaan Aceh Darussalam, dan lonceng tersebut diletakkan di Kompleks Istana Darud Dunia pada sudut kanan Mesjid Raya Baiturrahman.

Perampasan lonceng tersebut merubah fungsi lonceng perang Cakra Donya yang sebelumnya lonceng dijadikan sebagai pemberi aba-aba jika ada musuh di laut, kemudian berubah fungsi sebagai pemanggil masyarakat untuk bersegera ke mesjid untuk melaksanakan shalat berjamaah serta menjadi pemberi tanda waktu berbuka puasa pada saat bulan Ramadhan.

 

Perjalanan sejarah yang dilalui Cakra Donya telah menginspirasi kami dalam menghasilkan sebuah desain fashion yang bermakna. Cakra Donya, sepatu pertama yang diproduksi oleh Ginding Leather berkolaborasi dengan Bell Society mencoba mengejawantahkan berbagai pesan yang tersampaikan dalam kisah sang lonceng besar. Pemilihan sepatu sebagai medium aktualisasi merupakan simbol dari perjalanan panjang yang telah dilalui Cakra Donya hingga abadi untuk kita maknai kini.

Silakan klik tautan berikut untuk mengunjungi etalase Cakra Donya di website kami ( Cakra Donya )

Leave a Reply

Your email address will not be published.